Nafas Interior Lewat Fotografi

Darwis Triadi dengan koleksi foto pajangannya, koleksi dari buku/pameran In My Room

Siapa yang kini tidak akrab dengan kamera? Semua orang, mungkin hampir
semua, membawa kamera dalam sakunya kemana-mana. Lihatlah telepon genggam
kita, yang rata-rata mempunyai lensa kecil siap jepret untuk mengabadikan
acara dugem kita, atau tulisan ‘Kutunggu Jandamu’ di belakang truk. Semua
akrab dengan kamera, termasuk pelayan resto yang gape memotret dengan
Blackberry atau iPhone karena setiap 10 menit ada saja yang minta tolong
difoto.

Beralih ke interior, artwork merupakan elemen penting yang memberi jiwa pada
ruangan. Patung kecil wanita cantik akan memberi aura lembut. Pahatan Irian
dengan penis raksasanya seringkali memaksa kita tersenyum. Lukisan
ekspresionis a la Affandi menyebar semangat dari tuan rumah. Bagaimana
dengan foto-foto berbingkai yang tergantung di dinding, atau apik tertata di
atas credenza?

Foto, sebagaimana lukisan atau seni dua dimensi lainnya, adalah bagian dari
karya senirupa yang telah mendunia. Namun karena tujuan memotret
berbeda-beda, seni dan aturan memajangnya juga berbeda-beda. Kita ambil
contoh foto keluarga. Sebaiknya jangan memajang lebih dari satu foto studio
karena itu membosankan. Lebih baik digandengkan dengan foto-foto sewaktu
keluarga berlibur yang setidaknya bisa menunjukkan keindahan lokasinya (dan
buat yang mau pamer, menunjukkan kalau mereka mampu membayar liburan
mahalnya).

Memajang foto lama dari zaman kita kecil juga biasanya menarik. Tamu akan
tertarik melihat foto Emilia Contessa di zaman keemasannya menyanyi, atau
Fauzi Bowo sewaktu masih mahasiswa dan belum pusing mengurus banjir Jakarta.

Mungkin apresiasi tertinggi adalah memajang hasil jepretan dari fotografer
terkenal yang nilai karyanya tinggi. Tidak ada aturan main yang baku untuk
memilih, tetapi harus diingat, foto yang kita pilih biasanya mencerminkan
kepribadian atau pernyataan kita. Contoh, foto underwater menunjukkan kita
pengagum kehidupan laut. Atau foto menara Eiffel menunjukkan kalau Paris
punya tempat spesial di hati.

Kita bisa pula memajang foto diri yang diambil dari keseharian kita, karena
banyak memori berharga didalamnya. Bila lagi suntuk, meminum kopi sambil
mendengar jazz sambil memandang-mandangi foto seperti ini bisa mengingatkan
kita untuk lebih menghargai apa yang kita punya.

Proporsi dan ukuran foto beserta bingkainya juga harus diperhatikan. Pilih
yang besarnya pas, jangan terlalu ‘berteriak’, jangan pula terlalu imut
malu-malu jadinya kelewatan orang. Masih lebih enak ngeliat wajah asli
Nyonya Suharti ketimbang fotonya yang sebesar pintu.

Bingkai yang salah bisa menghancurkan foto. Bayangkan foto hitam putih
dengan komposisi grafis yang kuat dipadu dengan bingkai besar emas berukir
(kecuali kita memang ingin memberikan shock-therapy untuk tamu kita).
Sesuaikan warna bingkai dengan fotonya, bila ingin aman.

Kesesuaian tema antara satu foto dengan lainnya tidak kalah penting.
Sebaiknya ada sedikit pengelompokan, agar tidak terlihat amburadul. Bila
dinding ruang tamu bertema nature, jangan disisipin foto arsitektur, tidak
nyambung. Tetapi, sekali lagi, bila ingin menciptakan aksen tertentu, bila
dilakukan dengan hati-hati, menabrakkan tema bisa jadi asyik.

Satu hal yang sangat mendasar adalah harmoni foto dengan interiornya, baik
dari sisi warna, komposisi, tema maupun alirannya. Foto tema modern biasanya
tidak sesuai dengan interior klasik Amerika.

Terakhir, perhatikan perawatan foto. Bingkai foto beberapa hari sekali
sebaiknya dibersihkan debunya, karena debu di negara tropis cenderung
lembab. Foto sebaiknya jangan menempel pada kaca, karena kandungan air di
permukaan foto akan membuatnya lengket. Sebaiknya gunakan matt-board
mengelilingi foto supaya ada jarak.

Selamat memajang!

Tags: , , , , , ,